preface:
Ini adalah posting pertama saya sejak CITC di-update. Maaf kalau judulnya masih berbahasa Inggris. Saya memiliki kesulitan dalam menerjemahkannya (meskipun sudah menggunakan Google Translator). Penerjemahan harfiah: ‘Desain Interaktif yang Berpusat pada Logika Pengguna’ bahkan masih belum tepat (menurut saya). Meskipun LUCID tidak melulu membahas interface, artikel ini saya posting karena seringkali kita lupa kalau ‘membuat program’ itu tidak boleh meremehkan tampilan antarmuka. Dalam banyak kasus, sukses tidaknya suatu program (secara market) banyak dipengaruhi dengan faktor ‘user friendly’.
————————————
Logical User-Centered Interactive Design (LUCID) merupakan framework yang dikembangkan oleh Cognetics Corporation. Lucid menyediakan kepada kita sebuah konteks seperti bagaimana mengendalikan produk kita, desain user interface-nya, dan aktivitas usability-nya. Lucid juga menyediakan pada kita latar belakang dan tool-tool yang kita butuhkan dalam mengatur aktivitas-aktivitas tersebut.
Komponen utama Lucid Design adalah ease-of-understanding (meringankan beban kita untuk mengerti) dan ease-to-use (memudahkan kita dalam menggunakan). Lucid Design memfokuskan pada ‘front-end’ dari perangkat lunak: menaksir/mengira-ngira kebutuhan/pensyaratan dari pengguna (user requirement) dan mengembangkan sebuah tampilan, perasaan dan pengarahan aliran (flow) yang mendukung kebutuhan/persyaratan fungsi (function requirements) dari sebuah sistem. Lucid Design tidak begitu mempermasalahkan arsitektur teknis dibandingkan beberapa metodologi (yang telah ditest dgn baik) yang telah ada sebelumnya.
Tipikal proses User-Centered Design memiliki 3 tahapan utama dalam bekerja (analisa, desain, dan evaluasi) dengan iterasi yang berputar ulang antara masing-masing tahapan. Framework Lucid mengizinkan metodologi-metodologi yang spesifik untuk diformulasikan agar dapat mempertemukan pengembangan produk yang berbeda atau berdasarkan kebutuhan organisasi.
Ada 6 jenjang dalam Lucid, yang bersama-sama menyesuaikan dalam sebuah project plan yang meng-cover daur hidup (life-cycle) lengkap dari sebuah proyek. Jenjang-jenjang ini dapat beriterasi, tetapi keduanya tidak lebih dalam dari sebuah iterasi dan untuk keseluruhan proyek, kemampuan untuk menyampaikan dari satu jenjang adalah input untuk masa depan. Sebagai tambahan, aumsi-asumsi tentang para pengguna dan usability requirements dicoba/tes dengan berkelanjutan sepanjang seluruh daur-hidup (life-cycle).
Jenjang-jenjang tersebut adalah:
a. Envision (membayangkan)
Kegiatan dalam memimpikan/membayangkan sebuah produk yang akan dibuat bisa jadi merupakan sebuah aktivitas yang sangat penting. Seringkali hal itu tampak berlebihan, atau terselesaikan dengan tidak sempurna, meninggalkan gap dalam mengartikan lingkup, konsep, dan fungsi. Idealnya, pekerjaan ini dilakukan oleh para stakeholder (termasuk bagian pemasaran, pengembang produk, desain, support, pelatihan dan manajemen produk). Sebagaimana setiap tim mulai bekerja, sangat penting disana mereka saling menyampaikan dan berbagi pandangan.
b. Analyze (menganalisa)
Aktivitas analisa melibatkan semua pengguna dan analisa tugas sama baiknya dengan koordinasi dengan analisa kebutuhan/kepentingan bisnis.
c. Design (mendesain)
Fase desain adalah salah satu yang paling iteratif. Bisa dimulai dari sebuah kunci prototipe sederhana dan berlanjut sampai pada keputusan penting desain akan dibuat.
d. Evaluate and Refine (evaluasi dan perbaikan)
Dalam kunci patok ukur (milestone), evaluasi pengguna sangat penting untuk meyakinkan bahwa produk telah menjawab kebutuhan pengguna.
e. Implement (implementasi)
Aktivitas implementasi melibatkan kreasi dari detil desain dan menyertai spesifikasi-spesifikasi untuk para pengembang sama baiknya dengan memonitor proses pengembangan untuk mencari penyelesaian masalah-masalah yang bisa terjadi.
f. Support (dukungan teknis)
Selama proses desain, para pengguna dapat mendukung aktivitas-aktivitas dengan berpartisipasi dan memberikan masukan. Pemerataan yang sukses dari sebuah produk membutuhkan atensi dari bagaimana pengguna di-support. Merencanakan peluncuran (launching/release), instalasi, kesadaran dan program-program pelatihan dan dukungan awal sebaiknya menjadi bagian dari proyek sejak awal.
————————————
closing:
LUCID bukanlah sebuah teori absolut dalam merancang sebuah interface. Kembali ke awal tulisan, LUCID merupakan framework yang memudahkan kita dalam menyampaikan hasil kita (produk: software) kepada pengguna agar pengguna dapat berinteraksi dengannya. Diharapkan, kita tidak hanya sekedar membayangkan bagaimana pengguna kita bisa menggunakan produk kita dengan baik dan benar (kecuali emang pengen dibikin susah biar ada jasa konsultasi dan maintenance. hehehe….)
cheers…!!!
::: diposting juga di citc :::